Layanan Super Suster-suster Plus

Layanan Super Suster-suster Plus

Shout Box

toptop: jis sepi euy
Login or register to post shouts

User login

Siapa yang Online

There are currently 0 users and 3 guests online.

Gambar Acak

Tagor (Ignas) # 6

Jajak Pendapat

Komentar Terbaru

Upcoming Birthdays

cynthia 11/01
AREE 26/01
udhay 26/01
slovanich 08/02
djoeloe 08/02
aldhie 04/03

Site Counter

  • Visitor: 462 persons
  • Access: 18193 hits

y!m:antiaribanget

Sindikasi

Syndicate content

Layanan Super Suster-suster Plus

Terbaring kesepian di kamar rumah sakit memang membosankan. Tapi, jika
tahu celahnya, suster-suster manis bisa menjadi teman yang menyenangkan.
Apa pun bisa terjadi di ruangan VIP rumah sakit. Main kucing-kucingan
dengan tamu atau sanak famili makin menambah sensasi.

Menjelang sore, lorong rumah sakit itu senyap. Jam besuk sudah lewat.
Dokter jaga sudah kembali ke ruang kerja. Para perawat baru saja berganti
shift. Selain dengung mesin pendingin kamar, seluruh lantai ruang VIP
rumah sakit di Jakarta Selatan itu sunyi senyap.

Seperti tak berpenghuni.

Kegelisahan pun menyergap seorang pasien di kamar paling pojok. Sudah dua
minggu sejak menjalani operasi lutut gara-gara mobilnya tabrakan,
Gen-sebut saja namanya begitu-hanya bisa telentang di ranjang. Sepanjang
hari ia cuma menonton televisi, sampai akhirnya dia punya ide. Tombol
dipencet, memanggil suster untuk datang.

Tak sampai semenit, seorang suster masuk. "Ada yang bisa saya bantu,
Bapak?" tanya sang suster ramah sambil mendekati tempat Gen berbaring.
"Mau ke kamar mandi," jawab Gen. Wajahnya meringis, menahan nyeri ingin
buang air kecil. Perawat berambut sepundak itu tangkas mengambil pispot.
Kedua tangannya mengangkat sedikit bahu pasiennya yang berbobot 65
kilogram itu. Dia membiarkan sang suster membuka piyamanya. Rupanya, momen
itu telah lama ditunggunya. "Suster, kok, jadi begini," ujar Gen,
tersenyum geli melihat "perkututnya" terbangun. Tak terduga, niat nakalnya
mendapat respons. Perawat itu mesem. "Memangnya kenapa, mau saya
teruskan?" ucap si suster, yang kali ini lupa mengakhiri sapaan lembutnya
itu dengan kata bapak.

Gen tak banyak bicara. Rasa kaget mendengar jawaban suster ia sembunyikan
lewat anggukan. Plus, satu kalimat singkat, "Saya tak suka pakai jari,
Sus." Tanpa banyak tanya, setelah membuang isi pispot, suster yang kita
sebut saja namanya Juliet itu, kembali ke sisi ranjang. Di sisi kiri
pasiennya itu, kemudian dia bersimpuh. Ada satu "tugas" yang mesti dia
lunaskan

Layanan manis tersebut tak hanya terjadi siang itu, tapi berlanjut selama
Gen terbaring di rumah sakit sampai hampir sepekan. Dia tak perlu la gi
merengek dengan trik kebelet pipis, tapi langsung pada sasaran. "Sejak
awal saya lihat dia gampang digoda. Semula kelihatan jual mahal, tapi itu
yang membuat saya nekat," katanya, mengenang kejadian beberapa bulan lalu
itu.

Bapak dua anak yang tinggal di Jakarta Barat ini semula hanya merayu.
Misalnya, akan membelikan martabak jika Juliet mau menemaninya saat susah
tidur malam. Tapi, jawaban si suster malah membuatnya keblinger. "Ah,
kalau cuma itu, sih, aku juga bisa beli, yang lain, dong," tuturnya
menirukan rengekan Juliet.

Gayung pun bersambut. Sehari kemudian Gen mengubah trik rayuan. "Kalau
diajak belanja ke Bandung, aku mau," timpal sang suster merajuk. He, di
manakah Gen? Di rumah sakit atau di panti pijat?

Tapi, ini bukan mimpi, Bung. Barangkali ini memang tugas yang harus
dilakukan perawat atau suster itu, yakni melayani pasien sebaik mungkin.
Namun, godaan minta diajak tamasya ke Bandung sambil berbelanja, apa itu
termasuk dalam job desk-nya?

Selanjutnya, bisa ditebak. Mendapat jawaban begitu, hidung Gen makin
belang saja. Pria berumur 39 tahun itu menilai tindak tanduk Juliet tak
wajar. Sekali lagi kail dilempar. "Yakin, kalau bukan lantaran uang, dia
enggak bakal mau sama saya," kata Gen sambil tertawa lebar. Gen memang
tidak ganteng. Jauhlah jika wajahnya disandingkan dengan bintang-bintang
yang sering nongol di sinetron. Namun, duitnya cukup untuk menaklukkan
perawat berusia 23 tahun itu.

Gampang caranya, uang puluhan ribu cukup untuk mengikatnya. Soal lokasi
kencan, privacy sebagai penghuni kamar VIP membuatnya cukup aman dan
nyaman. Trik itu berhasil. Di kencan berikutnya, biar mantap, dia
menyelipkan selembar cek berangka dua juta rupiah di balik kertas check up
dan daftar obat yang biasa si suster pegang. "Melihat lembaran itu dia
hanya tersenyum, lalu segera mengangkat gagang telepon," kata Gen. Dari
kalimat yang dia tangkap, rupanya dia menelepon ruang jaga dan mengatakan
sedang menunggu pasiennya yang tertidur lelap.

Agaknya jumlah itu sangat besar. Gen tak memunyai kesepakatan apa pun
laiknya transaksi seks dalam bisnis esek-esek. "Sebetulnya dia punya tarif
tersendiri, tapi dia baru ngaku pada kencan berikutnya," ucap Gen, "saya
anggap itu bonus."

Bagi Gen, itu bonus, tapi bagi Juliet angka itu menandakan pasiennya bukan
sembarangan. Selama sepekan penuh, tiga kali! Gen mengencani suster manis
satu atau dua jam di kamarnya. "Kesempatan emasnya hanya saat dia tugas
shift malam," ucapnya sambil mendelik nakal.

Biarpun kelihatannya punya banyak waktu, suster macam Juliet tetap tak mau
ambil risiko. Dua rekan yang punya kebiasaan dan kelihaian sama pernah
tergaruk dan akhirnya dipecat gara-gara ketahuan ada main dengan dokter
dan pasien.

Lo, jadi banyakkah Juliet-Juliet lain? Benarkah "kencan pispot" sudah
biasa? Lebih jauh lagi: benarkah ada sindikasi yang mengatur kencan gelap
di kamar VIP rumah sakit? TAK BISA DIPASTIKAN, MEMANG. NAMUN, SESUNGGUHNYA
POLAH SUSTER JULIET bukan kabar baru. Belasan tahunan lalu, seorang sumber
MATRA bercerita hal serupa di sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta.
Layanannya kala itu, baru tarian jemari atau seks oral, belum sampai naik
ke ranjang. Sumber lain menceritakan, suster yang punya kebiasaan seperti
itu umumnya masih muda usia, di bawah 25 tahun. "Yang saya kenal malah
baru berusia 22 tahun," katanya.

Para suster memang memiliki wilayah "kekuasaan" yang luas. Dia bisa masuk
ke kamar perawatan tanpa ada yang melarang. Bahkan, dia bisa mengusir
keluarga atau kolega pasien dengan alasan ingin memberikan kesempatan
beristirahat. "Maaf, ya, Bu, bapak harus istirahat." Dengan kalimat itu,
istri sekali pun musti keluar dari kamar.

Betulkah ini side job suster zaman sekarang? Seorang Pengawas Keliling
Rawat Inap tegas menjawab: ya! "Mustahil tak ada apa-apa jika mereka
berkeliaran di sini saat libur, apalagi berdandan, dan bersolek tidak
seperti suster lainnya," kata perempuan yang sebut saja namanya: Cantik.

Menurut Cantik, tiap kali berkeliling, dia sering mendapati para suster
seperti punya pasien pelanggan tetap. Tiap pasien anu memanggil, yang
datang selalu suster A, tak pernah yang lain," katanya lagi. Sekalipun
Suster A tidak berada di ruang jaga, suster lain belum tentu berani
melayani pasien itu. "Seperti ada penjatahan," tambahnya.

Dia mengakui, ada indikasi kuat empat perawat di rumah sakitnya suka
memberikan layanan plus. "Rata-rata usia mereka di bawah 25, cirinya
gampang, kalau tidak cantik, pastilah bertubuh tinggi dan montok," kata
lajang berusia 26 tahun ini.

Umumnya, pasien yang mereka jaring adalah pasien ruang VIP. "Kebanyakan
pasien bule, meskipun sering juga orang lokal," katanya.

Ia pernah menangkap basah isi pesan pendek di layar monitor ponsel milik
salah satu perawatnya. Bagian akhir kalimat SMS itu adalah nama hotel dan
nama pengirim pesan, cukup membuatnya paham kegiatan lain susternya. Dia
tak menyangka kenakalan suster bisa jauh sepertiitu. Sebelumnya, yang ia
tahu hanya sebatas hubungan emosi dengan dokter jaga atau pasien.

Jenis perawatan spesifik yang membuat masa rawat inap cukup panjang
agaknya ikut menyuburkan kasus-kasus seperti ini. Jika pasien harus
menginap sebulan, boleh jadi interaksinya dengan suster bisa sangat akrab.
Tak sedikit memang pasien pria punya sikap genit dan gombal terhadap
suster.

Menurut Cantik, kasus-kasus seperti itu tidak hanya terjadi di rumah
sakitnya saja, tapi juga di tempat lainnya. MATRA yang mengendus sepak
terjang para suster ini mendapatkan sejumlah petunjuk yang mengejutkan.
Tak percaya? Mari main ke sebuah rumah sakit di kawasan Jakarta Timur.

Bram, bukan nama asli, karyawan perusahaan asa hiburan, suatu kali pernah
menginap sepekan di ruangan VIP rumah sakit itu. "Dari awal, suster itu
menatap saya dengan pandangan nakal menggoda," kata elaki yang kala itu
mengidap hipertensi. Hari pertama dan kedua Bram masih jaim. Ia hanya
berani menggoda Anita, sebutlah namanya begitu, suster muda berusia sekira
20 tahunan. "Kebetulan dia yang bertugas mengawasi saya," ujar pria ini.
Suster kepala berkunjung juga, meski hanya inspeksi.

Ringkas cerita, suatu sore Anita yang berbadan semok, menawarkan diri
untuk memandikan Bram. Padahal, "Meski tangan diinfus, sebenarnya saya
bisa mandi sendiri, kok," kata Bram. Sebetulnya ia tak pernah menyangka
kalau perempuan berparas manis dan berambut panjang itu berprofesi ganda.
Saat mandi itulah semua misteri tersingkap.

Awalnya, Bram malu-malu kucing. Namun, rupanya libido memendekkan akal
sehatnya. Suasana mendukung pula. Tak ada orang lain, cuma berdua. Rasa
suntuk dan bosan juga mulai menyergap lelaki itu. Tak terasa tangan Anita
mulai bergerilya. Bram gelap mata.

Sampai hubungan badan? "Tidak, hanya oral," katanya. Bukannya dia ogah
bercinta. Selain badannya lemas, ada pertimbangan lain. "Enggak tega,
mereka, kan, pekerja sosial," tutur Bram, berkilah," tapi menyesal juga,
sih, tak sampai making love."

Entah sungkan atau sekadar meluncurkan jurus dagang, Anita tak menagih
bayaran. "Tapi, Anita sering pulang larut malam, jam 11 atau 12," ujar
Bram. Dia jadi tak tega hati. Empat lembar lima puluh ribuan mengucur dari
sakunya, sekadar "uang lelah".

Namun, permainan nakal tak berhenti sampai di situ. Setelah sembuh, Anita
dan Bram masih kerap berhubungan. "Sekadar hangout, nonton dan, main
biliar saja. Cium-cium sedikit, ya, ada," katanya. Tapi, ia enggan
bertindak lebih jauh.

DUIT TIP YANG DITERIMA PARA SUSTER ITU MEMANG TIDAK SEDIKIT. Barangkali
itu pula yang bisa membuat mereka membuang penat di tempat-tempat hiburan
yang gemerlap. Itu yang kerap dilakukan Suster Cinta- sebut saja namanya
itu-perawat sebuah rumah sakit swasta di Jakarta.

Di sudut kiri ruangan Planet Holywood, di ujung minggu awal Desember, dia
duduk bersama seorang rekan. Usia keduanya sebaya. Dia memakai gaun katun
hitam dengan padanan jins biru ketat. Cinta sendiri mengenakan rok selutut
dengan setelan gaun katun cokelat.Tubuhnya kecil. Rambutnya dipotong
pendek. Tak tampak riasan di wajah perempuan kelahiran Semarang, 23 tahun
silam ini. Manis. "Aku jarang ke sini, maklum anak rumahan," kata
perempuan muda itu tertawa sambil menutupi mulutnya. Perempuan muda yang
duduk di sampingnya-mengaku bernama Florida-bukan nama sebenarnya juga,
ikut tertawa.

Cinta yang gemar clubbing ini, menurut seorang suster lain, berkelakuan
sama seperti Juliet. "Tak ada tarif khusus, tapi kalau ditanya, paling
sedikit lima ratus ribu sampai satu juta," kata sumber MATRA yang lulusan
akademi perawatan di kawasan Jakarta Pusat ini. Tak ada tarif khusus
memang, karena Cinta bekerja sendirian tanpa "mami".

Cara kerja Cinta cukup unik. Dia berburu mangsa di daftar pasien check up
di kamar VIP. Jika calon pasien lebih dulu booking jam dan kamarnya,
tugasnya lebih mudah. Dia lebih tahu usia, asal usul, dan "isi kantong"
pasien dari data pekerjaannya. "Mudah, sebab selain menjadi orang pertama
yang menyentuh pasien, suster di sini lebih leluasa berkomunikasi," kata
lajang yang tak menyukai asap rokok ini. Dokter tak banyak berada di kamar
check up, namun di ruang konsultasi.

Jika berbicara soal seberapa jauh Cinta memberikan "layanan plus", dia
mengaku tak "sebebas" di rumah sakit umum. "Di situ aku lebih banyak
mancing untuk kencan, gampang, kok," ujarnya.

Pertama, dia akan berbuat sebisa mungkin menyentuh alat vital si pasien.
Menurutnya, jarang sekali langkah pertama ini gagal. Langkah selanjutnya,
ini kalau pasien langsung bereaksi dan situasinya aman, dia bisa melakukan
onani di tempat.

Kalau gagal, masih ada nomor ponsel yang bisa dikontak. "Keluar dari situ,
mereka pasti kirim SMS, kalau yang jaim akan langsung ketahuan apa maunya,
dan mereka lebih mudah kita mainkan," ucap pemilik tahi lalat di atas
bibir yang mengaku ingin meneruskan kuliah manajemen keperawatan ini.

Biasanya, pasien yang masuk perangkap akan diajak clubbing. Ini juga satu
syarat tak resmi yang disukainya dari calon pasien. Dari situ, dia
membiarkan pasiennya mengajak ke hotel transit langganannya di kawasan
Ancol atau Pasar Baru. "Sebab, besoknya aku bisa langsung ke tempat
kerja," tutur suster yang selama hampir setahun sudah menggeluti side job
ini.

Di lain tempat dan waktu berbeda, MATRA juga bertemu Juliet, suster yang
memberi layanan plus kepada Gen. Kala itu di sebuah kafe di Cilandak Town
Square, salah satu tempatnya mampir sepulang kerja. "Tergantung situasi,
kalau dapat shift malam, gue bisa kencan di kamar, tapi jika masuk pagi
atau hari libur, lebih enak di hotel," ujar lajang berdarah Jawa Barat
ini. Selain bisa istirahat nyaman, bisnis gelapnya ini juga lebih aman.
Juliet jarang pulang ke rumah. Sebulan bisa dihitung hanya berapa kali dia
berada di tengah keluarganya di kawasan perbukitan kapur Bogor. Juliet
mengaku side job yang dilakukannya sejak hampir dua tahun ini sangat
menguntungkan. "Gaji di sini tidak sampai dua juta, buat jajan, pulsa,
kosmetik, seminggu juga sudah habis," kata pengunjung tetap Zanzibar dan
Hard Rock Cafe ini, enteng. Gaya berbincangnya di dalam rumah sakit
ternyata berbeda dengan di luar. Apalagi, jika lawan bicaranya adalah
mangsanya sendiri. "Gue ML (making love) setahun setelah lulus dari
akademi. Itu sama pacar kedua gue. Dia duda," katanya. Dia bilang, kerja
sampingan yang dia anggap hal biasa ini buah dari kepenatannya selama
belajar dan tinggal di akademi. "Selama tiga tahun mana pernah gue kenal
pacaran, jangankan kenal dugem atau ML, ciuman juga enggak," kata Juliet,
yang lulus dari akademi perawatan di kawasan Bogor tiga tahun lalu itu.

Kebiasaan tidak pulang selama tinggal di asrama kiranya bisa menjadi kiat
jitu sebagai tameng untuk menutupi jadwal keluyuran mereka demi side job
tersebut. Maklum, clubbing dan menginap di hotel seakan telah menjadi
rutinitas lainnya di samping merawat pasien.

Juliet mengaku menikmati betul kerja sampingannya itu. Tak sedikit pun dia
takut risiko dikeluarkan oleh manajemen. "Kalau ceroboh dan ketahuan, itu
risiko," katanya, "tapi sampai saat ini bukan masalah." Dalam sebulan, dia
bisa mendapatkan dua sampai tiga pasien. Dari mereka, uang yang didapat
bisa mencapai tiga juta. "Itu hitungan bersih, sebab mesti bagi-bagi ke
teman yang lain juga," katanya.

Kebanyakan, pasiennya dari kalangan bule. Namun, kalau terdesak, pasien
VIP lokal seperti si Gen, juga digarapnya. "Dulu ada senior kita yang
secara tak tertulis memberi aturan main dan mengoordinasikan pasien buat
kita berlima, sayangnya dia sudah pindah ke luar kota," ungkapnya.

Senior yang dimaksud tak lain, sebut saja, Meidi. Dia memang dikenal
sebagai "mami kecil". Berkat jasanya, suster macam Juliet dan beberapa
temannya sering kebagian order menangani pasien yang pernah dia servis
luar dalam semasa mereka bekerja di sebuah rumah sakit besar di kawasan
Bekasi.

Tiga tahun silam, Meidi terpaksa drop-out atas permintaan yayasan pemilik
rumah sakit setelah ketahuan sedang asyik "main" dengan seorang pasien
berkebangsaan Nigeria. "Siapa tak tertarik, tiap kali datang ke kamarnya
dikasih lima ratus ribu," kata Meidi. Tentu kedatangannya tak semata
berkunjung, tapi layanan plus "tarian" jemari. Hingga kemudian, layanan
meningkat menjadi ML di ranjang pasien. Karena menganggur, Meidi
meneruskan hubungan dengan si Niger, yang tenyata seorang bandar narkoba.
Dia pun terjerat narkoba. Beruntung dia sanggup lepas dari si Niger. Kini
dia berstatus mahasiswi sekolah seni tari di Jakarta. Kendati bisa secara
perlahan mengurangi konsumsi narkoba jenis shabu-shabu, sisa-sisa masa
kelamnya tetap dia jalani.

Perempuan berusia 24 tahun itu bukan kembali menjadi "suster plus", atau
bandar shabu, namun sebagai agen pemasok pasien bule dan pria-pria nakal
untuk beberapa suster yang dia kenal. "Apa gue pantas disebut 'mami'?"
kilah janda muda berkulit sawo matang itu mengenai julukannya. Dia tertawa
lebar.

Terserah apa omongannya. Yang jelas, 15%-20% uang kencan akan menjadi
bagiannya jika ia memberi order satu pasien untuk diservis. "Kan, tidak
harus di kamar pasien, kenapa mesti takut dituntut rumah sakit?" kata
perempuan yang kerap bolak-balik Jakarta-Bandung ke rumah orang tuanya
itu.

Dia juga mengaku tak pasang tarif. Dia bisa mematok harga seenaknya
tergantung siapa pasien yang dibawanya. "Minimal delapan ratus ribu, kalau
bule satu juta, tapi saya tak pernah bicara harga pada pasien, cukup
ngomong dengan suster," katanya. Pintar juga dia, si Meidi ini. Nasihat
atau teguran bukannya tak ada. Cantik, misalnya, kerap gerah melihat
kelakuan Meidi dan rekan-rekannya yang mencemari korps putih-putih itu,
tapi dia cuma bisa angkat bahu. "Aku cuma bisa kasih nasihat pada mereka,
lain dari itu aku tak bisa apa-apa, sebab mereka rata-rata pandai bergaul
dengan dokter dan atasan," kilahnya, serius.

Kedekatan itu juga rentan dengan aktivitas seksual semacam suster plus.
"Hubungan seksual antara pasien dengan petugas kesehatan, dalam hal ini
dokter maupun perawat, dapat disebut tindak pelanggaran susila," ujar
Dokter Kartono Muhammad, mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Walhasil, jangan coba-coba berpraktik ganda di rumah sakit. Sanksinya
cukup tegas dan keras. "Itu tergantung peraturan rumah sakit yang terkait
dan tingkat kesalahan yang dilakukan. Dan, saksi paling berat adalah
pemecatan", lanjutnya. Namun, jika dilakukan di luar tempat praktik, hal
itu sudah tidak terkait dengan profesi. Menurutnya, tindakan tersebut bisa
saja jadi. "Mereka, kan, sama-sama manusia," kata Kartono, mengimbuhkan,
"kalau sudah ngebet, ya, buat janji saja di luar." Dari Tanah Abang ke New
York

Comments

to, u nulis apaan sih.........
:-/

he..he..

tulis yang seru2 yang lain kek.......

Laughing out loud

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Textual smileys will be replaced with graphical ones.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
4 + 0 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.

Losing My Religion

Life is bigger, it's bigger than you, and you are not me

— REM, Losing My Religion